Sunday, June 21, 2009

Morning walk thought

Setelah 3 bulan selalu berjalan menyebrangi jembatan penyebrangan Karet setiap pagi, entah mengapa, selalu saya merasa greget setiap meliat ibu peminta2 membawa seorang balita.

Kemudian, selalu terbayang bagaimana jika Samuel yg berada dalam posisi balita itu. Ihhh, amit2 deh tok tok tok ... Saya berusaha memahami latar belakang kenapa ibu tua itu "memasang" anaknya atau entah cucunya atau entah siapa untuk mencari sesuap nasi. Kenapa sih tidak dibiarkan saja balita itu bermain bebas dgn anak seusianya. Saya berusaha memahami masih banyaknya orang yg tidak mampu secara ekonomis. Tapi mengapa harus sampai mengorbankan balita? Balita itu harusnya pekerjaannya hanya bersenang2, bermain2, membuat hidup orang lain cerah krn tingkah lakunya yg polos dan lucu. Tapi ini, malah membuat saya mengelus dada. Apa yg bisa saya lakukan? Saya hanya berdoa dalam hati dan berusaha agar saya dapat memberikan yg terbaik bagi Samuel. Dapat mengajarkan kepada dia untuk selalu bersyukur atas apa yg dimilikinya. Dapat mengajarkannya untuk berperasaan peka terhadap sekelilingnya. Andai ada yg bisa saya lakukan walaupun saya tidak memiliki harta yg berlimpah secara materiil.